Dua Kebun Teh Terakhir di Eropa
Polly lands on a terraced hillside where one of only two working tea plantations left in Europe still uses century-old machines, born after disease wiped out the island's orange trees.
Read at your pace. The full app adds translation and saved vocabulary.
Keep it on your phone โDi lereng hijau di atas pesisir utara, barisan semak teh yang terpangkas rapi turun ke arah laut dalam garis-garis panjang yang teratur, nyaris serapi gambar yang dibuat dengan penggaris. Polly hinggap di tembok batu rendah di tepi perkebunan dan memandangi salah satu dari hanya dua tempat tersisa di seluruh benua Eropa yang masih menanam teh secara komersial, dan satu-satunya yang terbuka untuk pengunjung.
Perkebunan ini dimulai pada tahun seribu delapan ratus delapan puluh tiga, setelah sebuah penyakit memusnahkan jeruk yang dahulu menjadi ekspor utama pulau. Sambil mencari tanaman lain yang bisa ditopang tanah vulkanik, seorang petani setempat mendatangkan semak teh beserta mesin Inggris yang dibuat untuk mengolahnya, dan keduanya nyaris tak pernah berhenti dipakai sejak saat itu, menjadikan tempat ini perkebunan teh tertua yang masih bekerja di Eropa, jauh melampaui yang lain.
Di dalam bangunan pabrik yang rendah, mesin besi berusia lebih dari seabad masih menggulung, memilah, dan mengeringkan daun hampir persis seperti ketika mereka pertama kali tiba dengan kapal. Para pekerja tetap memetik pucuk termuda dengan tangan di sepanjang teras, sebab daun pucuk yang lembut menghasilkan teh terbaik, dan tidak ada satu pun di sini yang disemprot pestisida atau herbisida, aturan yang dipegang para petani sejak awal mula.
Polly berjalan menyusuri satu teras yang hangat, menyerempet barisan daun hijau mengilap yang beraroma samar rumput dan hujan. Di suatu tempat di bawah lereng itu, lima generasi petani telah menjaga bukit ini tetap seperti seharusnya, satu panen cermat demi satu panen.
You just heard Polly
Want to hear what YOU sound like?
Read a line of the story out loud. Your recording stays on your device and is never uploaded.
Not bad, right? If you were in the PollyStop app, Polly would listen to exactly that and score you right now.
Coaching, saved words, spaced repetition, and a fresh story every day.
Get PollyStop freeYou just tried the loop
Now take the story with you.
PollyStop brings listening, saved vocabulary, speaking practice, and a fresh graded story together on your phone.
Read this story in another language.
Same story, different language. Compare the shape and rhythm without losing the plot.
Keep reading
More Indonesian stories.
Lengan yang Bisa Mengecap
Read free
Bayaran Terbesar dalam Sejarah Atletik
Read free
Menyeruput Keras Itu Justru Sopan
Read free
Mengajari Komputer Berbahasa Paus
Read free
Detak Jantung Pohon yang Sangat Lambat
Read free
Air Terjun yang Jatuh ke Atas
Read freeKeep learning in PollyStop
Listen, save words, practise