Dibangun dari Apa yang Ada
On Lamb Holm, two army huts hold a chapel that prisoners of war made out of scrap, and the only honest question to ask about it is a question about work.
Read at your pace. The full app adds translation and saved vocabulary.
Keep it on your phone โKapel di Lamb Holm terdiri dari dua barak tentara yang disambung ujung ke ujung, dan itulah hal pertama yang dilihat orang sekaligus hal terakhir yang mereka ingat. Seorang penjaga sedang membuka kuncinya ketika Polly tiba, laki-laki yang tidak terburu-buru dengan seikat kunci di tangannya. "Apa pekerjaan Anda?" tanya Polly, dan ia menjawab bahwa ia membuka pintu pada pagi hari, menutupnya pada malam hari, dan di antara keduanya mengecat ulang apa saja yang dikikis udara asin.
Di dalam, kedua barak itu lenyap. Para tawanan perang Italia dibawa ke sini pada tahun seribu sembilan ratus empat puluhan untuk mengerjakan penghalang laut, dan mereka meminta tempat untuk beribadah. Yang mereka terima adalah seng bergelombang. Yang mereka buat darinya adalah langit-langit berkubah, ruang altar dari batu, sekat besi tempa, dan lukisan altar, dan salah seorang dari mereka, pelukis bernama Domenico Chiocchetti, memimpin pekerjaan itu.
"Apa yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini?" adalah pertanyaan yang harus dijawab kamp tersebut. Mereka meminta semen, dan semen diberikan. Selebihnya berasal dari barang yang dibuang kamp itu sendiri. Sekatnya besi rongsokan yang ditempa dingin. Tempat lilinnya kaleng kornet bekas. Batu di ruang altar sebenarnya papan gipsum, dicat begitu teliti sehingga Anda harus mendekat sebelum bahan itu mengakui dirinya.
Penjaga itu meninggalkan sebuah alat kecil di ambang jendela. "Bisakah Anda menunjukkan cara memakai alat ini?" tanya Polly, dan ia pun menunjukkannya, tetapi penjelasannya lewat begitu saja pada percobaan pertama. "Bisakah Anda menjelaskannya sekali lagi?" Ia melakukannya juga. Lalu ia kembali ke catnya, dan Polly mendongak ke langit-langit logam datar yang berpura-pura melengkung, dan mempertahankan kepura-puraan itu dari setiap kursi di ruangan tersebut.
You just heard Polly
Want to hear what YOU sound like?
Read a line of the story out loud. Your recording stays on your device and is never uploaded.
Not bad, right? If you were in the PollyStop app, Polly would listen to exactly that and score you right now.
Coaching, saved words, spaced repetition, and a fresh story every day.
Get PollyStop freeYou just tried the loop
Now take the story with you.
PollyStop brings listening, saved vocabulary, speaking practice, and a fresh graded story together on your phone.
Read this story in another language.
Same story, different language. Compare the shape and rhythm without losing the plot.
Keep reading
More Indonesian stories.
Lengan yang Bisa Mengecap
Read free
Bayaran Terbesar dalam Sejarah Atletik
Read free
Menyeruput Keras Itu Justru Sopan
Read free
Mengajari Komputer Berbahasa Paus
Read free
Detak Jantung Pohon yang Sangat Lambat
Read free
Air Terjun yang Jatuh ke Atas
Read freeKeep learning in PollyStop
Listen, save words, practise